Aceh Utara Kembali Berstatus Tanggap Darurat Bencana

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, kembali menetapkan status darurat musibah setelah wilayah itu terendam banjir sejak dua hari lampau akibat intensitas hujan nan tinggi dan meluapnya air sungai.

Sebelumnya pemerintah setempat sudah mengakhiri fase tanggap darurat musibah dan beranjak ke masa transisi darurat menuju pemulihan pascabencana pada Selasa (6/1). Namun lantaran banjir selama dua hari terakhir, Pemkab Aceh Utara kembali menetapkan status tanggap darurat bencana.

Status itu bakal melangkah selama 14 hari ke depan hingga 24 Januari 2026. Keputusan tersebut diambil guna mempercepat penanganan akibat musibah nan sudah memasuki fase kritis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir kembali memicu banjir susulan cukup luas di sini (Aceh Utara)," kata Plt Sekda Aceh Utara Jamaluddin saat dikonfirmasi, Sabtu (10/1).

Jamaluddin mengatakan arus sungai nan terus meluap berakibat ke pemukiman warga, sehingga status masa transisi dievaluasi setelah pihaknya menggelar rapat koordinasi dan memandang kondisi di lapangan.

"Kita sepakat mengembalikan status wilayah ke tanggap darurat sehingga langkah pengamanan lebih maksimal," ucapnya.

Berdasarkan laporan BMKG, potensi hujan intensitas ringan hingga sedang tetap bakal mengguyur wilayah Aceh Utara dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama mereka nan tinggal di bantaran sungai dan wilayah rawan tenggelam.

Dengan berlakunya status tanggap darurat, Pemkab Aceh Utara mempunyai akses lebih luas dalam pengerahan personel, peralatan, maupun penggunaan anggaran darurat untuk membantu penanganan bencana.

Aceh Utara jadi salah satu wilayah nan terdampak parah musibah banjir dan longsor nan terjadi pada akhir November 2025 lalu. Dari info posko tanggap darurat musibah Aceh pembaruan Sabtu (10/1) korban meninggal bumi 230 orang dan 6 jiwa dinyatakan hilang.

Kemudian pengungsi berjumlah 19.047 jiwa nan tersebar di 210 titik dan rumah penduduk nan rusak mencapai 46.607 unit. Banjir dan longsor itu juga menghilangkan 4 dusun pemukiman penduduk di Desa Guci, Riseh Teungoh, Riseh Baroh dan Desa Rayeuk Pungkie.

13 ribu hektare kebun kopi di Aceh rusak

Sementara itu, musibah banjir bandang dan longsor nan melanda Aceh pada akhir November 2025 berakibat serius terhadap sektor pertanian, khususnya perkebunan kopi.

Dari info posko tanggap darurat musibah Aceh nan terdata hingga Sabtu (10/1), sekitar 13.083 hektar kebun kopi di wilayah penghasil kopi, ialah di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, rusak.

Di Aceh Tengah jadi wilayah terparah kebun kopi penduduk nan rusak mencapai 12.638 hektare sementara di Bener Meriah 445 hektare.

Kebun terluas mengalami kerusakan di Kecamatan Pegasing Aceh Tengah seluas 2.905 hektar, kemudian di Kecamatan Bintang dan Rusip Antara masing-masing 2 ribu hektare. Kerusakan kebun terjadi menyeluruh di 14 kecamatan dengan luas bervariasi.

"12.638 hektare lahan kopi di Aceh Tengah mengalami kerusakan dan 445 hektare di Bener Meriah," kata Jubir Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Cut Huzaimah mengatakan lahan kopi dan semua lahan perkebunan lainnya sedang dalam pendataan final sampai tanggal 20 Januari 2026.

Pihaknya bakal membantu para petani nan kebunnya terdampak sembari menunggu pendataan mengenai luas area hingga tingkat kerusakan.

"Kita pembaruan terus dengan kementerian pertanian dan bantuannya maksimal dengan APBN," ucapnya

(dra/har)

Selengkapnya
Sumber cnnindonesia.com nasional
cnnindonesia.com nasional