TEMPO.CO, Jakarta - Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada Juni 2025 melonjak tajam mencapai 1,53 juta ton, naik 45,70 persen dibandingkan Juni 2024 nan hanya 1,05 juta ton. “Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam konvensi pers di Jakarta, Jumat, 1 Agustus 2025.
Meski demikian, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan tren positif ini tidak bersambung pada kuartal ketiga. Potensi produksi jagung pada Juli-September 2025 diprediksi hanya 3,60 juta ton, turun 0,99 juta ton alias 21,57 persen dibandingkan periode nan sama tahun lalu.
Baca buletin dengan sedikit iklan, klik di sini
Secara kumulatif, produksi jagung pipilan kering sepanjang Januari hingga Juni 2025 diperkirakan mencapai 8,52 juta ton, meningkat 19,23 persen dibandingkan periode nan sama tahun 2024.
Dari sisi luas panen, BPS mencatat realisasi pada Juni 2025 mencapai 0,26 juta hektare, naik dari 0,18 juta hektare pada Juni 2024. Total luas panen dari Januari hingga Juni 2025 pun tumbuh 17,76 persen menjadi 1,50 juta hektare dari sebelumnya 1,27 juta hektare.
Namun, potensi luas panen pada kuartal ketiga 2025 diprediksi turun menjadi 0,61 juta hektare. Angka ini menurun 0,16 juta hektare alias 20,45 persen dibandingkan periode nan sama tahun lampau nan mencapai 0,77 juta hektare. “Perlu diketahui potensi luas panen ini mencakup juga tanaman jagung nan nantinya tidak dipipil, seperti nan dipanen muda alias nan dijadikan hijauan untuk pakan ternak,” jelas Pudji.
Ia menambahkan, angka-angka tersebut berkarakter sementara dan bisa berubah tergantung kondisi lapangan, seperti serangan hama, organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, serta waktu panen oleh petani.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·