Mengapa Mobil Listrik i2C Mejeng di GIIAS 2025

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta -PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) memamerkan proyek mobil listrik Indigenous Indonesia Car alias i2C di perhelatan Gaikindo International Indonesia Auto Show (GIIAS) 2025. Mobil ini sudah melalui fase I alias jenis clay dalam pengembangan desainnya. Dua tahun mendatang mobil ini ditargetkan bisa diproduksi dengan nilai berkisar di US$ 30 ribu alias kurang dari Rp 500 juta.

Chief Engineer i2C Triharsa Adicahya menjelaskan bahwa proyek tersebut bagian dari memunculkan merek lokal original Indonesia dalam perkembangan industri otomotif global. Ia memandang hingga sekarang belum ada perusahaan lokal nan betul-betul merancang dan membangun kendaraan sendiri dalam proses produksinya. Padahal, kata dia, pasar otomotif dalam negeri cukup besar dengan terjualnya 800 ribu hingga 1,2 juta unit mobil setiap tahunnya.

“Merek lokal kudu merancang bangun sendiri, jadi IP (Intellectual Property) itu bring value. Kalau merek lokal tapi hanya tukar logo dan nama saja, itu tidak memberikan akibat apa-apa. Royaltinya terbang ke luar negeri,” kata Adicahya saat dihubungi Tempo, Selasa, 29 Juli 2025. Ia optimistis produsen lokal juga bisa membangun mobil lewat pabrik-pabrik nan ada di dalam negeri.

Adicahya menyadari bahwa pengembangan mobil i2C ini tetap memerlukan banyak waktu lantaran butuh pertimbangan nan berkepanjangan hingga bisa diproduksi massal. Ia juga menyatakan minatnya memamerkan proyek tersebut di pameran otomotif GIIAS tahun depan dengan jenis pengembangan nan lebih optimal. “Jadi fase sekarang ini belum masuk fase produksi,” ucapnya.

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai sasaran produksi massal i2C pada 2027 sangat ambisius. Sebab, menurut dia, siklus standar industri otomotif dunia umumnya memerlukan tiga sampai lima tahun dari mobil konsep hingga bisa diproduksi massal.

Ia menyebut, perlu pengembangan minimal 50 unit purwarupa nan melewati pengetesan komprehensif hingga sebuah perusahaan memutuskan untuk memproduksi produk otomotifnya secara massal. Sedangkan untuk mobil i2C, saat ini tetap dalam model clay nan memerlukan banyak support dari mitra-mitra lokal nan andal serta tidak terikat dengan prinsipal asing.

Selain itu, kebutuhan investasi nan besar serta kesiapan vendor lokal sangat menentukan kelanjutan proyek ini. “Semua ini jelas memerlukan orkestrasi sistematik, termasuk percepatan izin, insentif fiskal, dan kebijakan negara nan afirmatif,” katanya kepada Tempo, Rabu, 30 Juli 2025.

Baca buletin dengan sedikit iklan, klik di sini

Selengkapnya
Sumber Tempo.co Bisnis
Tempo.co Bisnis