Tanggapan Berbagai Pihak Soal Keinginan Prabowo Ekspor Beras

Sedang Trending 8 bulan yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto membuka izin kepada Kementerian Pertanian dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk melakukan ekpor beras ke luar negeri. 

“Saya izinkan dan saya perintahkan untuk kirim beras ke mereka (negara lain),” ujar Prabowo saat menghadiri agenda Gerakan Indonesia Menanam nan diinisiasi Ustadz Adi Hidayat di Desa Sungai Pinang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, pada Rabu, 23 April 2025.

Baca buletin dengan sedikit iklan, klik di sini

Menurut Prabowo, ekspor beras tersebut kudu dilakukan atas dasar kemanusiaan, bukan untuk untung ekonomi. Prabowo mengatakan jika Indonesia tidak bakal mengambil untuk besar dari pengiriman tersebut sebagai bukti jika Indonesia telah menjadi bangsa berdikari nan bisa membantu bangsa lain. “Yang krusial biaya produksi, angkutan, dan manajemen bisa kembali.”

Keputusan tersebut diambil setelah Prabowo menerima laporan dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengenai permintaan sejumlah negara nan berambisi Indonesia bisa mengirimkan berat mengingat Indonesia mengalami surplus produksi. Akan tetapi, pernyataan Prabowo mengenai ekspor beras tersebut menuai beragam tanggapan dari beragam pihak.

  1. Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Ekonom Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori tidak menyetujui langkah Prabowo untuk mengekspor beras meski membenarkan bahwa produksi beras dalam negeri beberapa bulan belakangan mengalami surplus dibandingkan tahun sebelumnya.

“Situasinya tetap banget riskan jika Indonesia gegabah mengekspor beras ke Malaysia alias negara lainnya,” kata Khudori pada Sabtu, 26 April 2025.

Khudori mengatakan jika pemerintah semestinya menghitung produksi dalam satu tahun penuh dan tidak menarik konklusi surplus beras alias tidaknya panen secara parsial, misalnya saat musim panen raya nan umumnya terjadi Februari-Mei. Alasannya adalah porsi produksi dalam momen tersebut bisa mencapai 60-65 persen dari produksi setahun.

  1. Kementerian Pertanian

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan jika pemerintah belum berencana ekspor beras meskipun produksi dalam negeri melonjak tajam hingga mencapai 3,18 juta ton. Menurut Amran, pihaknya lebih menekankan bakal pentingnya memperkuat persediaan beras nasional terlebih dulu untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia. 

“Kita upayakan dulu stok diperkuat,” kata Amran di sela Rapat Koordinasi Nasional berbareng 37 ribu penyuluh pertanian nan dilakukan hybrid di Jakarta, pada Sabtu, 26 April 2025.

Amran mengatakan jika ekspor beras baru bakal dipertimbangkan jika kebutuhan dalam negeri betul-betul terpenuhi. Amran mempertimbangkan adanya tantangan suasana dunia nan dapat berkapak terhadap stabilitas produksi pangan dalam negeri.

“Yang krusial kita cukup dulu dalam negeri. Kita kudu siap kecukupan kita, jika perlu kita siapkan betul-betul lebih dari cukup. Kenapa? Iklim tidak bersahabat,” katanya.

  1. Badan Pangan Nasional (Bapanas)

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan jika ekspor beras hanya dapat dilakukan setelah pemerintah memastikan persediaan pangan cukup dalam memenuhi kebutuhan pangan domestik.

“Kami ini kemarin tetap menyiapkan persediaan pangan. Sekarang lagi panen, kami simpan dulu. Kalau kelak persediaan pangan udah dirasa cukup, (bisa ekspor),” kata Arief saat ditemui di kantornya, pada 29 April 2025.

Arief mengungkapkan jika diagram produksi beras tengah menanjak. Setelah panen raya pada Mei, diagram berkesempatan turun. Dengan produksi tersebut, pemerintah bakal menghitung keahlian persediaan pangan memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.

“Presiden kita bilang boleh silahkan jika mau diekspor. Kalau saya menyarankan sebaiknya kita penuhi persediaan pangan dulu. Kemudian kelak kita hitung ulang, jika memang harus,” katanya.

Alfitria Nefi P, Melynda Dwi Puspita, dan Han Revanda berkontribusi dalam penulisan tulisan ini. 
Selengkapnya
Sumber Tempo.co Bisnis
Tempo.co Bisnis