Teguk Indonesia Rugi Rp 26 Miliar pada Kuartal III 2024

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta - PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK), emiten pengelola gerai Teguk Indonesia, mencatatkan rugi sebesar Rp 26,1 miliar per 30 September 2024. Pada periode nan sama tahun sebelumnya, perusahaan tetap membukukan untung sebesar Rp 4,1 miliar.

Penurunan keahlian ini turut tercermin dari pendapatan. Hingga akhir kuartal III 2024, TGUK mencatatkan penjualan sebesar Rp 69 miliar, ambruk dari Rp 100 miliar pada periode nan sama tahun lalu. Penjualan tersebut berasal dari segmen minuman sebesar Rp 64 miliar dan makanan sebesar Rp 5,07 miliar.

Baca buletin dengan sedikit iklan, klik di sini

Dari sisi neraca, total aset TGUK menyusut dari Rp 200 miliar menjadi Rp 189 miliar. Sementara liabilitas meningkat dari Rp 23 miliar menjadi Rp 38 miliar. Ekuitas perusahaan juga turun dari Rp 177 miliar menjadi Rp 151 miliar.

Di tengah tekanan keahlian keuangan, TGUK tengah dalam proses akuisisi oleh penanammodal asing. Pada 18 Juli 2025, pemegang saham kebanyakan TGUK, PT Dinasti Kreatif Indonesia, menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat (CSPA) dengan Visionary Capital Global Pte. Ltd. (VCG), perusahaan asal Singapura. Kesepakatan ini mengenai akuisisi 59,34 persen saham TGUK.

Direktur Utama TGUK Maulana Hakim mengatakan penandatanganan perjanjian dilakukan pada 18 Juli 2025, dan proses akuisisi ditargetkan rampung paling lambat 30 September 2025. “Telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat mengenai penjualan saham Perseroan sebanyak 2.119.104.818,” kata Maulana dalam keterbukaan info di Bursa Efek Indonesia, Sabtu, 26 Juli 2025.

Maulana menjelaskan, andaikan proses akuisisi tidak rampung sesuai jadwal, maka perjanjian bakal otomatis dibatalkan. Namun, pembatalan ini tidak bertindak jika kedua pihak—Dinasti Kreatif Indonesia dan Visionary Capital Global, sepakat untuk melanjutkan transaksi. “Apabila transaksi berasas perjanjian tersebut diselesaikan, VCG bakal menjadi pengendali baru dari TGUK,” ujar Maulana. Saat ini, proses akuisisi tetap berada pada tahap pemenuhan persyaratan pendahuluan.


Disclaimer: Berita ini tidak bermaksud membujuk pembaca untuk membeli alias menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.

Selengkapnya
Sumber Tempo.co Bisnis
Tempo.co Bisnis