Sejarah Shell hingga Jual Aset Seluruh SPBU di Indonesia

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan daya dunia Shell menjual seluruh jaringan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) miliknya di Indonesia kepada perusahaan patungan nan dibentuk oleh Citadel Pacific Limited dan Sefas Group Indonesia. Transaksi tersebut mencakup sekitar 200 SPBU, termasuk 160 unit nan dimiliki langsung oleh perusahaan.

Citadel merupakan pemegang lisensi merek Shell di sejumlah wilayah Asia Pasifik, sementara Sefas adalah mitra pengedaran pelumas Shell terbesar di Indonesia.

Baca buletin dengan sedikit iklan, klik di sini

Vice President Corporate Relations Shell Indonesia, Susi Hutapea, mengatakan keputusan untuk menjual seluruh jaringan stasiun SPBU Shell di Indonesia ini merupakan bagian dari strategi dunia Shell untuk merampingkan portofolio upaya hilir (downstream) dan menyusun ulang konsentrasi usahanya.

“Pelepasan aset SPBU Shell merupakan langkah strategis untuk menyesuaikan portofolio upaya Shell agar lebih ramping dan konsentrasi pada area dengan nilai tambah lebih tinggi,” kata Susi dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 23 Mei 2025.

Meski keluar dari upaya ritel BBM, Susi menyebut operasional upaya tetap melangkah normal dan pengguna tetap bisa menikmati jasa seperti biasa selama masa transisi. "Kegiatan operasional upaya SPBU Shell bakal tetap berjalan seperti biasa, hingga penyelesaian proses pengalihan kepemilikan ini diharapkan terjadi pada tahun depan,” kata Susi.

Bahan bakar kepada mitra dan konsumen juga bakal terus dipasok melalui perjanjian lisensi merek serta memastikan penjualan jaringan ritel ini tidak memengaruhi lini upaya pelumas Shell di Indonesia. 

Menurut Susi, Shell tetap mengoperasikan pabrik pencampuran pelumas dengan kapabilitas 300 juta liter per tahun dan tengah membangun akomodasi produksi gendut di Marunda, Jakarta Utara, dengan kapabilitas 2.000 ton per tahun. Selain itu, Shell juga tetap menjalankan terminal bahan bakar di Gresik, Jawa Timur.

Profil Shell

Shell beraksi di bawah bendera Royal Dutch Shell, raksasa daya bumi nan berdiri sejak 1907. Perusahaan ini merupakan hasil penggabungan perusahaan minyak asal Belanda, Royal Dutch Petroleum, dengan perusahaan asal Inggris, Shell Transport and Trading Company. Kendati demikian, eksistensi Shell bermulai lebih awal, pada 1833, ketika family Samuel di London memulai upaya cinderamata dan kerang laut dari Timur Jauh nan menjadi inspirasi dari nama dan logo perusahaan ini.

Pada dasarnya, keberadaan Shell tidak lepas dari sejarah penemuan minyak pada akhir abad ke-19 di Sumatera. Pada 1884, seorang penduduk negara Belanda berjulukan Aeilko Jans Zijlker menemukan indikasi keberadaan minyak bumi di wilayah pantai timur Sumatera. Setelah mengantongi izin eksplorasi dari Sultan Langkat, Zijlker memulai pengeboran di sumur pertamanya, namun hasilnya nihil.

Berselang satu tahun, dia melakukan pengeboran di letak lain nan dikenal sebagai Telaga Tunggal 1, di area Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Sumur tersebut sukses menghasilkan minyak dalam jumlah komersial dan membuka jalan bagi perkembangan industri perminyakan di wilayah tersebut.

Selanjutnya, Zijlker meresmikan perusahaan eksplorasi minyaknya dengan mendirikan Royal Dutch Petroleum Company di Den Haag, Belanda, sebagai transformasi dari perusahaannya sebelumnya, Provisional Sumatra Petroleum Company pada 1890. Inilah cikal bakal dari Royal Dutch Shell plc. Sejak saat itu, Shell telah mengambil bagian dari beragam lini upaya daya di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, Shell terus mengembangkan operasinya di sektor hulu dan hilir di Indonesia. Di sisi hilir, perusahaan ini menyediakan beragam produk energi, termasuk bahan bakar kendaraan, pelumas untuk sektor industri dan transportasi, bahan bakar kapal, kebutuhan daya komersial, hingga aspal (bitumen) untuk infrastruktur.

Adapun, Shell memasuki upaya ritel bahan bakar di Indonesia mulai 1 November 2005 dengan pembukaan SPBU pertama di area Lippo Karawaci, Tangerang. Tak lama setelahnya, pada 1 Maret 2006, Shell meluncurkan SPBU keduanya di Jalan S. Parman, Slipi, Jakarta Barat.  Sejak itu, jaringan SPBU Shell berkembang pesat, mencapai sekitar 200 letak hingga 2024.

Nandito Putra berkontribusi dalam penulisan tulisan ini.
Selengkapnya
Sumber Tempo.co Bisnis
Tempo.co Bisnis